Allah Berkehendak Kita Selalu Mengucap Syukur

AMANATAGUNG.COM – Kehendak Allah (Will of God) “Kehendak” Allah diambil dari sebuah kata Yunani, ‘Thelema’ yang berarti pilihan Tuhan atau isi hati Tuhan. Demikian juga dengan kata kehendak dalam bahasa Ibraninya menggunakan kata” ץפח” ( chephets) yang punya arti sebuah  “Kesenangan” atau “Kemauan”.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” I Tesalonika 5:18

Apabila kita membahas tentang kesenangan dan kemauan Tuhan. Kita sebagai Pengikut Kristus harus memahami apa yang Tuhan mau dan senangi untuk di laksanakan, karena KEHENDAK TUHAN sama dengan Hukum Tuhan atau “Ketetapan Tuhan atau Peraturan Tuhan”yang harus dilakukan oleh umat-Nya.

Namun apakah mungkin kita bisa mengucap syukur saat orang yang kita kasihi meninggalkan kita buat selama-lamanya? Tak mungkin kita dapat mengucap syukur saat kita didiagnosa oleh dokter bahwa kita sedang menderita penyakit kanker ataupun saat kita kecelakaan dan banyak hal yang buruk sedang kita alami. Namun bukankah semua kejadian tersebut tercakup dalam keadaan “segala hal”.

Dengan demikian bahwa hal ini memberitahu prihal “mengucap syukur” itu sama sekali bukan persoalan perasaan tetapi persoalan “ketaatan”. Persoalannya adalah apakah kita akan taat atau tidak? Akan tetapi, mengapa? Mengapa kita diperintahkan Allah untuk melakukan hal yang begitu melawan perasaan dan naluri kita? Kalau kita mengerti alasan di balik suatu perintah akan lebih mudah untuk kita menjalaninya.

(Ibrani 10 :36) “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu” (Ayat 39B) “Tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh HIDUP“. ( 1Yoh. 2:17) Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya (Manusia), tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selamanya.

Kita mempunyai banyak hal untuk disyukuri, kita bersyukur karena mempunyai Juruselamat yaitu Yesus Kristus. Sesuai dengan rancangan penebusan dosa oleh Allah Bapa, mulai dari menciptakan dunia dan kejatuhan manusia dalam dosa. Kemudian melalui perantaraan para nabi-Nya, Dia mewahyukan rencana keselamatan dengan perintah-perintah serta tata cara-tata cara yang menyertainya.

Kemudian Yesus datang ke dunia untuk memberi pengajaran dan menunjukkan jalan kepada kita. Yesus menderita serta membayar harga untuk dosa-dosa kita jika kita mau bertobat. Dia menyerahkan nyawa-Nya, dan Yesus menaklukkan maut serta bangkit dari kubur agar kita semua yang percaya pada-Nya beroleh hidup yang kekal. Dia adalah Terang serta Hidup Dunia yang perlu kita syukuri hingga sampai saat ini.

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu , sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kolese 3:15-17)

Dalam ketiga ayat tersebut terdapat pengulangan kata syukur, jika terdapat pengulangan kata mempunyai pengertian sangat penting. Apalagi beberapa bulan ini kita kembali di terpa pandemi virus Covid-19 varian Omicron dan status level PPKM meningkat ke level 3, ketika kita merasa tidak ada apa-apa yang dapat disyukuri. Di seluruh dunia, sering mendengarkan suara kerisauan atas dampaknya. Bahkan dari keluarga kita tidak terhindar dari akibat yang ditimbulkan oleh virus ini. Akan tetapi sebagai pengikut Kristus, seharusnya pada masa seperti inilah, kita mulai belajar untuk bersyukur.

Mari kita perhatikan surat rasul paulus I Tesalonika 5:18 diatas, dimana Paulus tidak meminta kita untuk mengucap syukur untuk segala hal, tetapi dalam segala hal yang sedang kita alami saat ini. Mungkin kita tidak dapat mengucap syukur untuk segala hal, kita tidak mungkin dapat mengucap syukur untuk segala sakit-penyakit kita, atau untuk segala masalah-masalah kita. Akan tetapi kita dapat mengucap syukur dalam segala hal dan dalam segala keadaan.

Kita juga jangan sampai gagal fokus, bahwa kita juga tidak dipanggil untuk mengucap syukur saat kita mengalami masalah saat sekarang ini saja, tetapi setelah segala hal itu terjadi, kita juga wajib mengucap syukur. Mudah untuk kita mengucap syukur dengan manfaat melihat ke belakang. Yang memuliakan Allah adalah mengucap syukur dalam segala hal bukan hanya untuk segala hal. Dengan demikian kita mengungkapkan keyakinan kita akan kedaulatan Allah dan kebijaksanaan Allah.

Bagaimana Kita Bisa Selalu Mengucap Syukur dalam Segala Hal ?

Melalui Perkataan Kita (The words that you say)

Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono – karena hal-hal ini tidak pantas – tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.(Efesus. 5:4)

Sebuah kalimat yang tanpa kita sadari keluar dari mulut kita seringkali dapat menyakiti hati orang lain. Kemudian lebih banyak kita bersungut-sungut dibandingkan apa yang Tuhan telah titipkan pada diri kita. Seharusnya selalu belajar untuk fokus dengan apa yang kita miliki, sehingga kita dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Mulai saat ini belajarlah untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal. Pada saat kita mulai melepaskan pengampunan terhadap perkataan orang lain, secara otomatis anugerah Tuhan akan turun atas kita.

Bagaimana Supaya Perkataan kita Jadi Berkat

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi berkat bagi orang lain, salah satunya melalui sarana media sosial. Janganlah kita menggunakan sosial media sebagai sarana untuk curhat dan melampiaskan kekesalan atau sebagai sarana untuk saling menjatuhkan antar sesama yang sering kita jumpai di status anak-anak Tuhan, karena hal itu akan menjadi sebuah batu sandungan bagi orang lain. Gunakan kesempatan yang ada melalui dunia yang modern saat ini melalui perkataan yang positif, yang berguna untuk saling membangun kerohanian kita semua.

Tentang sesuatu hal kecil yang dilakukan orang lain harus kita lihat secara spesifik. Kepada istri dan anak kita harus membangun hubungan yang baik dengan mereka dengan melakukan hal-hal yang spesifik.

Hati Yesus sangat sensitif yaitu pada saat Yesus memberi makan lima ribu orang, Yesus sangat menghargai anak yang memiliki lima roti dan dua ikan. Percayalah apabila Tuhan dapat melipatgandakan lima roti dan dua ikan tersebut, kita juga akan mengalami pelipatgandaan tersebut. Ketika orang memberikan sesuatu kepada kita, apapun kondisi kita, kita harus tetap menghargai. Hargailah satu sama lain apapun kondisi kita saat ini.

Bagaimana supaya kita bisa menjadi sukses dan berhasil? Kita perlu memperhatikan hal ini, yaitu jangan mengabaikan hal-hal yang kecil. Banyak orang sukses, akan tetapi mereka tidak mengucap syukur akan apa yang mereka miliki dalam hidup mereka. Setiap tantangan dan ujian yang terjadi, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Percayalah bahwa dalam setiap ujian akan menjadikan kita bisa naik level setingkat demi setingkat dan akhirnya kita bisa mencapai level yang Tuhan mau lakukan pada hidup kita.

Related Sermon From Author

Social Connected

10,119FansSuka
21,449PengikutMengikuti
3,119PelangganBerlangganan