Jangan Menunda Pekerjaan dan Pelayanan

AMANATAGUNG.COM – Firman Tuhan dengan jelas mengajari kita untuk tidak menunda segala jenis pekerjaan seperti melakukan pelayanan Tuhan – melakukan sebuah kebaikan – melakukan segala jenis pekerjaan dan masih banyak lagi kegiatan yang seharusnya bisa kita kerjakan sekarang, namun terkadang kita menundanya untuk beberapa saat atau bahkan sampai berlarut-larut tanpa ada penyelesaian.

Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Lukas 9:59-62)

Jika kita sering kali melakukan penundaan-penundaan, dan tanpa kita sadari dengan melakukan penundaan akan sangat berbahaya bagi hidup kita, seperti halnya bagi para hamba Tuhan dan semua pengikut Kristus, jika melakukan penundaan sama saja dengan membuang suatu kesempatan yang terbaik dari Tuhan.

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. (Yohanes 9:4)

Kita harus berani mengambil resiko apa pun yang kita sedang hadapi, karena kita harus yakin, bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai kita. oleh sebab itu jangan pernah sekali-sekali menunda apa yang Tuhan mau kita lakukan, kita harus berani mengambil keputusan untuk melangkah dan menjalankan apa yang menjadi perintah Tuhan dalam hidup kita.

Jika kita kembali melihat di zaman Musa tentang perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, dimana sejak mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir hingga masuk ke Tanah Perjanjian, mereka terus menerus dipimpin oleh tangan Tuhan yang perkasa.

Melalui apa saja Tuhan menuntun mereka untuk segera keluar? Tuhan berfirman melalui Musa, Yosua serta pemimpin-pemimpin yang Tuhan percayakan bagi mereka. Tuhan tidak serta-merta langsung memberikan visi masuk Tanah Perjanjian tanpa memberikan tuntunan-Nya setiap waktu yang dilewati bersama umat yang dikasihi-Nya. Seluruh perjalanan mereka dituntun dengan sempurna oleh Tuhan, itulah luar biasanya Tuhan kita.

Akan tetapi sangat disayangkan, walupun Tuhan telah menyatakan tuntunan-Nya melalui firman-Nya, seringkali bangsa Israel menolak untuk taat, yaitu dengan cara mengeraskan hati untuk tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Mereka sering berlama-lama untuk melakukan apa yang harusnya mereka lakukan.

Firman Tuhan yang disampaikan kepada umat-Nya tidak lain bertujuan untuk menuntun dan menjauhkan umat-Nya dari hal-hal yang buruk. Sebagai akibat dari hati yang menunda-nunda untuk melakukan Firman tersebut, maka banyak dari umat Tuhan pada waktu itu yang mati di padang gurun dan tidak sampai di tanah yang dijanjikan.

Jangan Menunda-Nunda Pekerjaan

Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh. Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran. “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,” maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata. (Amsal 24:30‭-‬34)

Ilustrasi dari Kitab Amsal memberitahu kita, walaupun seseorang memiliki sifat malas dalam dirinya, namun ada perbedaan yang nyata antara orang yang sedang malas dan seseorang yang memiliki sifat pemalas. Orang bisa saja malas dalam suatu waktu atau keadaan tertentu, tetapi seorang pemalas akan selalu memiliki sifat malas tersebut dalam segala hal.

Ciri-ciri yang menonjol dari seorang pemalas adalah suka menunda-nunda pekerjaan. Sebagai contohnya coba perhatikan ayat 33. Seorang pemalas akan tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi dan tinggal berbaring.

Perlu diketahui bahwa sang pemalas tersebut sebenarnya memiliki ladang yang harus ia kerjakan. Namun ia mempunyai hoby lebih suka tidur, mengantuk, dan berbaring daripada mengerjakan ladangnya. Ini adalah sikap menunda-nunda dari seorang pemalas.

Akibat dari menunda-nunda dampaknya ternyata sungguh luar biasa terdapat pada ayat 34. Seorang pemalas yang suka menunda-nunda akan menuai buah dari kemalasannya itu, yaitu ia akan miskin dan kekurangan.

Prilaku ini sangat masuk akal karena ia tidak mau melakukan apa yang menjadi bagiannya saat itu. Ia lebih memilih untuk tidur dan bersantai daripada melakukan pekerjaannya di ladang. Ia menunda-nunda apa yang sebenarnya dapat ia kerjakan.

Jangan Menunda-Nunda Berbuat Baik

Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi, sedangkan yang diminta ada padamu.” (Amsal 3:28)

Firman Tuhan secara gamblang mengajarkan untuk tidak menunda berbuat baik, ketika kita mampu melakukannya dan bantuan yang diperlukan orang tersebut, ternyata ada pada kita.

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
(2 Kor 9:7-8)

Dalam kehidupan kita sehari-hari di saat pandemi mungkin banyak orang disekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Firman Tuhan mengajari kita, bahwa saat memberi harus memberi dengan penuh kerelaan hati dan tidak menolak ketika ada yang datang meminjam. Karena Allah mengasihi orang yang melakukan hal demikian.

Mungkin saja kita merasa belum cukup mendapat berkat untuk bisa memberi. Sedangkan semua orang pun tahu, bahwa tidak ada manusia yang akan merasa cukup. Kebanyakan manusia cenderung merasa dirinya masih kurang sehingga belum mampu untuk memberi, apakah itu tentang memberi melalui materi, waktu, tenaga, ataupun pikiran.

Memiliki perasaan telah cukup tidak akan pernah dirasakan, sebagai dampaknya, untuk praktek memberi pun semakin sulit untuk dilakukan. Seharusnya memberi dapat dimulai dari hal-hal yang kelihatannya sepele. Keputusan kita untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu dan dipakai untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan adalah sebuah keputusan bijak. Kehidupan tidak melulu soal materi atau pemuasan hasrat pribadi, tetapi lebih utama apakah kita bisa membantu sesama yang membutuhkan di sekitar kita.

Jangan Menunda-Nunda Pelayanan

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” (Roma 12 : 11)

Saat kita mengambil keputusan terjun dalam dunia pelayanan di gereja, apapun jenis pelayanannya, maka untuk melayani Tuhan kita harus disiplin terhadap diri kita sendiri. Kita harus tau mana prioritas dalam hidup kita. Kita harus mendahulukan mana hal yang kita anggap penting dalam hidup ini. Kadang kita masih menomerduakan Tuhan. Kita lebih mementingkan hal-hal duniawi yang lain dan mengesampingkan Tuhan.

Tetapi apapun yang terjadi, seberapa banyak halangan, rintangan dan godaan, kita tidak boleh menunda-nunda untuk melayani Tuhan. Jangan pernah berpikir untuk menunda, sebab itu bukan solusi, melainkan layanilah Tuhan dengan segenap hati. Karena kita tidak boleh melayani Tuhan dengan bermalas-malasan, setengah hati, dan tidak bersemangat. Itu akan membuat Tuhan sedih.

Supaya tidak terjadi penundaan dalam semua jenis pekerjaan yang kita geluti, sebaiknya kita mengindari beberapa hal berikut ini :

1. Jangan Ragu-Ragu dalam melangkah

Terkadang kita mengalami keragu-raguan dalam mengambil sebuah keputusan, sehingga hal tersebut yang menghambat perjalanan kita untuk maju bersama dengan Tuhan. Seseorang jika ragu-ragu biasanya akan lamban dalam mengambil keputusan karena terlalu banyak pertimbangan mengakibatkan terjadinya penundaan dan tidak di lakukan dengan cepat.

2. Kalahkan Rasa Ketakutan dan Kekhawatiran

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7)

Adanya rasa ketakutan dan kekahwatiran yang timbul dari dalam diri kita, membuat kita tidak fokus dalam menyelesaikan semua tugas-tugas kita. Sebagai dampaknya membuat kita menunda-nunda dalam melangkah dan melakukan sesuatu, dan berujung pada kemalasan.

Jika kita dapat mengalahkan Ketakutan dan kekhawatiran, kita akan dapat melakukan semua tugas kita dan tidak akan menunda-nunda apa yang harus kita selesaikan sekarang.

3. Hindari Terlalu Banyak Pertimbangan.

Terkadang sering muncul pertimbangan, dan yang sering membuat terjadi nya penundaan adalah munculnya pertimbangan ke 2 dan ke 3. Karena terlalu banyak pertimbangan yang mucul dalam pikiran kita, itu yang membuat kita akhirnya menunda dan tidak mengambil keputusan dan tidak bertindak sekarang.

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. (Amsal 3:5-6)

Lakukan sekarang adalah sebuah tindakan Iman, jangan ragu-ragu sekalipun kita belum mengetahui apa yang akan terjadi didepan, jika kita beriman kita akan melangkah. Mantapkan dalam hatimu dengan mengatakan Lakukan Sekarang. Maka kita harus melakukannya sekarang, pada masa kehidupan kita di saat ini, bukan di masalah lalu.

Karena saat kita masih hidup masa lalu, itu yang menjadi salah satu alasan kita melakukan penundaan dan tidak dapat mengambil keputusan dan melangkah untuk masa depan. Kita harus dapat hidup menerima masa lalu dan terus malangkah di saat ini.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ”Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (Yakobus 4:13)

Semua orang tidak akan ada yang tahu keadaan dan waktu serta kesempatan pada saat mengarungi kehidupan kita. Dalam Firman Tuhan tersebut mengibaratkan bahwa hidup kita hanyalah seperti uap, jangan pernah kehilangan kesempatan untuk melakukan Tugas dan Panggilan kita. Jangan sampai anda kehilangan kesempatan untuk melayani Tuhan dan juga melayani sesama. Pergunakanlah setiap kesempatan untuk melayani jangan tunda untuk memakai kesempatan ini.

Oleh karena itu, jangan anda menyia-nyiakan waktu selagi masih ada kesempatan untuk mengerjakan hal-hal yang berharga. Karena hampir sebagian besar orang yang sukses dalam segala jenis pekerjaan karena selalu menghargai waktu.

Related Sermon From Author

Social Connected

10,119FansSuka
21,449PengikutMengikuti
3,119PelangganBerlangganan